Manusia memang senang sekali merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Lalu merasa pantas untuk melakukan penilaian yang biasanya merendahkan. Sialnya, kita ga menyadari bahwa penilaian jelek kita kepada orang lain adalah penilaian orang lain terhadap tingkah kita. Saat kita menilai si A lemot, manja, tukang ngeluh, tukang gratakan, tukang ngutang, tukang ngupil, ngerepotin, jorok, bau, genit, boros, dekil ato apalah. Si B kemungkinan besar juga punya penilaian yang sama tentang kita. Tapi karena ego kita yang sebesar gunung, kadang kita males, malu dan gengsi untuk mengakui kalo kita juga sebenarnya ya sebejat itu. Ga terima kenyataan, kita lalu membangun khayalan bahwa kita ini indah, bagus, pinter, hebat, keren. Dilihat dari cermin imajiner yang ada di kepala kita sendiri. Sedangkan orang lain melihat kita dengan pandangan mengerut alis dan males kenal lalu ngakak dalam hati sambil komentar ”Busyet deh, kalo mau narsis kira-kira dong.” atau “Apaan sih lu? Sok banget” atau “ Sapa seh lo? Bisanya ngomong kayak gitu. Ngaca dulu dong” atau “Ih, ga malu. Nyelain orang, sendirinya begitu. Malah lebih parah”. Kalau kalimat-kalimat begitu disodorkan ke muka kita, malunya minta ampun.
Satu hal yang aku tau dari orang yang suka mencela orang lain adalah sebagus apapun kebaikan lain yang dia punya, orang tetap males untuk duduk dekat-dekat dia. Ya karena sering-sering mendengar orang mencela, ternyata membuat risih juga. Di samping itu menurutku orang model begini bukan tipe yang bisa dipercaya. Jika dia bisa membicakan keburukan orang lain tanpa risih sama sekali di depan kita berarti dia juga pernah membicarakan keburukan kita tanpa risih di depan orang lain. Dan berita yang dibawa oleh orang yang suka mencela belum tentu bisa dipercaya 100% karena penilaiannya adalah subyektif apalagi kalo ditambah rasa iri di hati mereka.
Memang kadang mengeluhkan tingkah orang lain adalah hal yang tidak bisa terelakan. Namanya juga bersosialisasi. Hidup bertetangga. Ada ketidakcocokan. Ada ketersinggungan. Ada kres. Tapi kalo bisa ya ga usah tiap hari nyelain orang. Sekali aja cukuplah buat buang uneg-uneg bukan untuk mengorek-ngorek aib dia. Dan kalo bisa, ngomong di depan orangnya langsung. Ini untuk menghindari kita di bilang tukang gossip atau tukang fitnah. Jadi dia tau kalo tingkah dia mengganggu kita. Katakan dengan kalimat baik dan jaga intonasi. Jangan nyolot. Jangan ngegas. Santai aja. Karena manusia kadang lebih suka mendengar intonasi daripada kata-kata. Sedangkan urusan memperbaiki diri sendiri adalah urusan sensitif karena ga ada orang yang suka di bilang kurang ajar. Kalo omongan kita ngegas, takutnya pesannya malah ga sampai, akhirnya ribut. Itulah ego. Kalo sudah diomongin baik-baik malah tetap ga terima, santai aja, ga usah ikut ngamuk. Balas omongannya dengan menjawab tenang, kata-kata yang tertata dengan alasan yang rasional, intonasi datar dan wajah inosen. Ini akan lebih efektif dan menghemat tenaga daripada nyumpah-nyumpah ga karuan. Kalo mau ribut lakukan dengan elegan dong.