Uapnya menari keluar berlomba mencapai eternit. Sisanya diam di tempat menunggu pasrah untuk di ciduk.  Putih, pulen, lembut dan hangat. Di angkut dengan mangkok batok kelapa, berpindah ke selembar kertas coklat, membentuk bulatan setengah niat, sendiri, mencari teman.

Mendekat ke etalase, terpajang piring dan baskom yang saling tumpuk menumpuk. Ciri khas susunannya. Di atasnya tersaji hasil olahan mutilasi halal. Mulai dari daging hingga jeroan, ga ketinggalan isi kepala. Kadang pun ditemani makhluk – makhluk air. Beberapa berkubang dalam baluran santan pekat. Kuning dan merah.

Ikut nampang juga sayur nangka dan kacang panjang, termasuk lalapan daun singkong. Dan di pojok etalase, semangkuk sambal ijo duduk manis menggoda. Semuanya juga menunggu pasrah untuk di ciduk. Ingin rasanya mengambil semua tapi kok kayaknya rakus ya. Akhirnya dipilih dua saja. Ayam sayur paha bawah dan rendang. Kuah sayur pun di guyurkan, membasahi di putih pulen. Tambahkan sedikit sayur nangka, sejumput lalapan daun singkong dan 3 sendok makan sambal ijo. Nasi Padang siap di bawa pulang.

  

Uapnya menari keluar berlomba mencapai eternit. Berhamburan dari celah si kuning yang meliuk – liuk. Bertabur cacahan ayam, potongan jamur, irisan daun bawang dan seledri. Terhampar dalam naungan mangkuk putih bersih. Di dekatnya semangkuk kecil kuah bening dengan sedikit minyak, 2 bulatan daging berendam di dalamnya. Kadang selembar pangsit juga ikut meramaikan suasana.

Sedikit kuah di siram ke kuning yang meliuk. Meresap ke dasar mangkuk. Bercampur baur dengan bumbu. Pindahkan juga bulatan daging dan lembaran pangsit. Biarkan 1 biji di tempatnya untuk santapan terakhir. Tambahkan sambal hingga si kuning berubah merah. Mi ayam pangsit siap di santap.

  

Uapnya menari keluar berlomba mencapai eternit. Mengebul dari sebuah mangkok putih licin. Di dalamnya berdiam 5 bulatan menawan dan sejumput taoge yang berendam dalam hangatnya kaldu. Kadang ada juga tetelan daging atau sepotong tulang. Irisan daun bawang, seledri dan bawang goreng bertaburan bagai bunga teratai di atas pot kembang. Tambahkan acar ketimun, sesendok kecap manis dan sambal encer. Siapkan sedotan untuk menggrogoti tulang. Bakso kuah siap berpindah ke perut.

   

Itulah yang ada di benak seorang perempuan yang saat ini hanya bisa makan bubur, bubur dan bubur.