RSS

Dua Ratus Juta

Perempuan itu muncul di depanku. Kulit putih mulus, rahang tirus dan bibir tipis, wajah orang kota sekarang. Mulutnya menebarkan ocehan yang menarik hati. “Dua ratus juta, mbak” katanya berapi – api. Matanya membelalak menunjukan keseriusan dan tangannya bergaya seperti orang Jepang mau di foto. “Cuma ketik REG bla bla bla dan kirim jawaban ke sekian sekian sekian sekian.”katanya lagi.
“Memang apa pertanyaannya?” aku pun bertanya.
Si mbak itu kemudian menunjuk rangkaian kata yang ada di sebelahnya. Jenis Olahraga. Begitulah pertanyaannya. Kemudian mbaknya menyebutkan sebuah kata acak – acakan yang merupakan jawabannya.
“Ini sih kelewat gampang” pikirku.
Si Mbak kemudian memberi petunjuk dengan menyebutkan nama mantan siswa Manchester United.  
“Halah.”
“Gampang kan Mbak ?”tanyanya padaku.

Hadiah sebesar itu dengan pertanyaan terlalu gampang untuk orang yang sudah akil baliq, kelihatannya cuma untuk pantes – pantes saja, seperti bujukan halus untuk membuang pulsa dengan ikhlas. Aku menatap si Mbak dengan curiga. Jangan – jangan dia mau mengambil pulsaku. Tawarannya lalu ku tolak mentah – mentah.

Ga lama kemudian seorang perempuan lain muncul. Yang ini berpakaian seperti mau kondangan. Gayanya seperti alumnus sekolah kepribadian putri. Jaim. Dan seperti perempuan tadi, mulutnya juga menebarkan ocehan yang menarik hati. ‘Dua ratus dua puluh sembilan juta’ dijembreng. Lebih banyak 29 juta dari yang tadi. Dan seperti tadi juga “Cukup dengan REG bla bla bla dan kirim jawaban ke sekian sekian sekian sekian.”
“Apa pertanyaannya?” aku kembali bertanya.
Alat komunikasi. Begitulah pertanyaanya. Si Mbak juga menyebutkan sebuah kata yang merupakan jawabannya dan kata itu juga acak-acakkan.
“Ini sih poteto potata sama yang tadi” pikirku.
Si mbak kemudian memberi petunjuk dengan pura-pura manjawab telepon.
“Mbaknya ga pinter akting”
“Duit segitu bisa buat beli macem – macem, mbak. Ga perlu kerja. Enak kan?” rayuannya maut.

Dua ratus juta dengan pertanyaan ga perlu mikir, di dapat tanpa harus keluar tenaga, cukup dengan olahraga jempol maka duit segepok akan segera di tangan. Lumayan bikin ngiler orang yang alergi miskin. Tapi aku tetap cuek. Seandainya pertanyaannya mutu sedikit, mungkin aku agak tertarik.

Selang berapa lama setelah mbak itu pergi, datanglah perempuan ini. Dengan gaya yang nyaris sama dengan mbak – mbak sebelumnya, mbak ini ternyata juga sales dua ratus juta. Dan seperti yang sudah ku kira “cuma ketik REG bla bla bla dan kirim jawaban ke sekian sekian sekian sekian”. Kemudian ditebarkannya impian – impian muluk ala dua ratus juta.
“Apa pertanyaannya ?” tanyaku mulai ilfil
Tidak setia di sebut. Begitulah pertanyaannya. Si Mbak menyebutkan sebuah kata yang tersusun acak dan hanya dua huruf pertama yang salah tempat.
“Petunjuknya kok sejelas ini ?”
“Saya kasih petunjuknya ya” katanya.
“Heh ? Masih perlu petunjuk lagi ?”
“Maia Achmad di tuduh punya pacar lagi.”
“Tobat”

Sepertinya Mbaknya salah tanya orang. Pertanyaan yang seperti cara Dora bertanya bagaimana menyebrangi kali padahal di depannya sudah ada jembatan dan anak panah yang kerlap kerlip menunjuk jembatan itu, harusnya di tanyakan ke anak es de. Terutama anak es de yang punya ha pe tentunya. Mereka pasti tertarik. Sekalian mengajari mereka kosa kata baru dan mengenalkan mereka pola pikir males praktis yaitu hasil maksimal dengan usaha minimal. Akhirnya tawarannya ku tolak juga.

 
3 Comments

Posted by on 13 April 2008 in Alkisah

 

Tags: , ,

Hanya Sehari

Aku tau yang ditunggunya
Aku tau makna sumringahnya
Aku tau arti airmatanya
Aku tau maksud serapahnya
Aku juga tau harapannya

Tapi aku ingin
Sehari saja aku ingin
Aku ingin lari dari kenyataan
Skip sebentar dari cengkraman takdir
Minggat ke neverland
 
Hanya sehari
Aku ingin menurunkan ransel beban
Menaruhnya di tanah di sebelah kaki
Aku ingin merentangkan punggung
Dan bersandar di bawah pohon jambu
Aku ingin memejamkan mata
Merasakan angin menghibur wajahku
Aku ingin membuka sumbatan paru –paru
Dan merefillnya dengan semangat baru
 
Jangan nyerocos terus tentang hal yang sudah ku paham
Yang kubutuhkan adalah seorang teman
Untuk menemaniku menertawakan kenyataan
 
Jadi kamu tenang saja
Ga usah mikir apa – apa
Karna semuanya pasti akan baik – baik saja

 
Leave a comment

Posted by on 17 March 2008 in Puisi

 

Tags: ,

Apa Daya

Uapnya menari keluar berlomba mencapai eternit. Sisanya diam di tempat menunggu pasrah untuk di ciduk.  Putih, pulen, lembut dan hangat. Di angkut dengan mangkok batok kelapa, berpindah ke selembar kertas coklat, membentuk bulatan setengah niat, sendiri, mencari teman.

Mendekat ke etalase, terpajang piring dan baskom yang saling tumpuk menumpuk. Ciri khas susunannya. Di atasnya tersaji hasil olahan mutilasi halal. Mulai dari daging hingga jeroan, ga ketinggalan isi kepala. Kadang pun ditemani makhluk – makhluk air. Beberapa berkubang dalam baluran santan pekat. Kuning dan merah.

Ikut nampang juga sayur nangka dan kacang panjang, termasuk lalapan daun singkong. Dan di pojok etalase, semangkuk sambal ijo duduk manis menggoda. Semuanya juga menunggu pasrah untuk di ciduk. Ingin rasanya mengambil semua tapi kok kayaknya rakus ya. Akhirnya dipilih dua saja. Ayam sayur paha bawah dan rendang. Kuah sayur pun di guyurkan, membasahi di putih pulen. Tambahkan sedikit sayur nangka, sejumput lalapan daun singkong dan 3 sendok makan sambal ijo. Nasi Padang siap di bawa pulang.

  

Uapnya menari keluar berlomba mencapai eternit. Berhamburan dari celah si kuning yang meliuk – liuk. Bertabur cacahan ayam, potongan jamur, irisan daun bawang dan seledri. Terhampar dalam naungan mangkuk putih bersih. Di dekatnya semangkuk kecil kuah bening dengan sedikit minyak, 2 bulatan daging berendam di dalamnya. Kadang selembar pangsit juga ikut meramaikan suasana.

Sedikit kuah di siram ke kuning yang meliuk. Meresap ke dasar mangkuk. Bercampur baur dengan bumbu. Pindahkan juga bulatan daging dan lembaran pangsit. Biarkan 1 biji di tempatnya untuk santapan terakhir. Tambahkan sambal hingga si kuning berubah merah. Mi ayam pangsit siap di santap.

  

Uapnya menari keluar berlomba mencapai eternit. Mengebul dari sebuah mangkok putih licin. Di dalamnya berdiam 5 bulatan menawan dan sejumput taoge yang berendam dalam hangatnya kaldu. Kadang ada juga tetelan daging atau sepotong tulang. Irisan daun bawang, seledri dan bawang goreng bertaburan bagai bunga teratai di atas pot kembang. Tambahkan acar ketimun, sesendok kecap manis dan sambal encer. Siapkan sedotan untuk menggrogoti tulang. Bakso kuah siap berpindah ke perut.

   

Itulah yang ada di benak seorang perempuan yang saat ini hanya bisa makan bubur, bubur dan bubur.

  

 
Leave a comment

Posted by on 3 March 2008 in Alkisah

 

Tags: , ,

Mirip Ga Sih

Ga usah protes. Bukan aku yang milih. Menurutku ini yang paling mendekati. Daripada Cameron Diaz ato Dennis Richard. Seengganya senyumnya sama khaaan ? :p

 
3 Comments

Posted by on 30 December 2007 in Iseng

 

Tags:

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.