RSS

Obat flu untuk balita

Anak-anak pasti sering mengalami flu terutama diusia balita. Sebelum di beri obat apotik, ada baiknya melakukan terapi alami sendiri dulu. Beberapa hal yang biasanya aku lakukan pada 3-5 hari pertama Arvind flu :

1. Memberinya madu.
Biasanya aku beli madu tj yang ada kurmanya. Menurut iklannya itu untuk meningkatkan stamina setelah sakit. Jadi aku rasa cocok🙂 . Kemasan botolnya yang model flip memudahkan minumnya. Tinggal pencet sedikit, madunya keluar dan bisa dikira-kira mo seberapa banyak. Arvind sendiri lebih suka minum madu dengan tenggak langsung dari botolnya. Dan dia sangat suka rasanya.

2. Memberinya minuman hangat.
Anak sakit flu itu membutuhkan banyak cairan. Minuman hangat bisa melegakan tenggorokan. Air putih hangat, air jahe atau air kencur bisa melegakan tenggorokan ketika mulai batuk.

3.makan makanan yang bergizi.
Menurut kepercayaan neneknya Arvind, kalo lagi sakit makan yang banyak. Perut kenyang penyakit hilang. Begitu kira-kira fatwanya. Untuk sakit flu, makan sop ayam dipercaya mampu meningkatkan kesembuhan dengan cepat. Sop katanya bisa meningkatkan rehidrasi dan nutrisi untuk tubuh. Disamping rasanya segar kalo makan sop panas saat hidung lagi tersumbat.

4.pijat.
Ini juga petuah lama. Selain ketularan, salah satu penyebab flu adalah kecapekan. Jadi kalo kecapekan enaknya dipijitin. Apalagi kalo lagi flu kan badan rasanya greges (apa bahasa indonesia nya greges?). Dan Arvind itu emang dasarnya kalo sakit maunya dimanja.Jadi seneng banget dia dipijitin.

5.kerokan.
Ini juga ilmu jaman batu. Flu dipercaya sebagai penurunan stamina seseorang. Dan biasanya karena masuk angin. Kerokan adalah pertolongan pertama pada masuk angin. Apalagi kalo kerokannya sampe merah, dianggapnya angin bersarang disitu. Kalo buat balita kerokannya biasanya pake bawang merah bukan duit logam.

6.uap
Untuk membuat ruangan lebih humid tambahkan minyak telon beberapa tetes ke dalam air panas yang di taruh di ember kecil. Taruh disudut ruangan.

7.minyak telon di saputangan.
Tetesin minyak telon di saputangan dan taruh dekat kepala dedeknya.

8.irisan bawang merah.
Taruh beberapa irisan bawang merah disudut ruangan. Ganti tiap hari. Bawang merah dipercaya bisa menangkap virus flu (baca dimana ya? Lupa).

Yah gitu kira-kira ritual sebelum ketemu obat apotik. Alhamdulillah Arvind belum pernah minum obat pilek. Paling obat batuk karena dia ga boleh kebanjuran batuk. Karena pernah kena pneumotorax, Arvind jangan sampe batuk ngukul (apalah itu bahasanya). Tapi itu juga ketemu obatnya sekali dua kali aja. Kalo batuknya jarang-jarang paling hanya diterapi sendiri saja.

 
Leave a comment

Posted by on 3 November 2015 in Info

 

Tags: ,

Miscarriage

Mabok di saat hamil muda itu sangat membuat senewen. Kadang maboknya ga cuma pagi hari saja, ada juga yang 24 jam. Segala macam minyak angin sudah berganti ganti merk, ga ada satupun yang mempan mengurangi rasa mual. Makan susah, badan lemas, maunya rebahan aja.Tapi walaupun rambut sudah nempel sama bantal tetap saja mabok berjaya. Jadi ketika aku hamil lagi dan ga merasa mual, aku girang. Dan karna aku merasa baik -baik saja maka aku ga mengurangi aktivitas. Hingga pada satu jumat sore, keluar flek kecokelatan. Masih sedikit, aku masih tenang saja. Besoknya flek masih keluar dan bertambah banyak. Aku mulai khawatir. Sorenya aku ke rumah sakit, ketika di usg, kantong hamilnya masih ada tapi kecil, cuma karena kehamilannya baru 6 minggu maka janinnya juga belum jelas kelihatan kondisinya. Aku melihat sedikit aura kecut dari wajah pak dokter. Sepertinya pak dokter merasa calon janin ini sulit untuk bertahan. Tapi dia tetap memberi semangat untukku. “kita observasi dulu 2 minggu ya bu. Lihat perkembangan janinnya. Sementara itu bedrest dulu dirumah, ga boleh gendong-gendong, ga boleh keluar rumah, ga boleh shopping shopping” katanya. Aku mengangguk nurut. Pak dokter lalu memberi obat penguat, vitamin dan obat pengurang kontraksi. Malamnya perutku tegang, rasanya kencang dan panas. Aku mencoba tidur tapi rasanya gelisah. Besok pagi-pagi aku melihat ada darah hitam yang keluar. Aku lemas. Aku merasa kehamilan ini tidak bisa tertolong. Besoknya aku kembali ke dokter. Dan ketika di usg, tidak ada yang terlihat di layar. Pak dokter tersenyum kecut “sepertinya sudah ga ada bu. Sayang sekali ya”.
Aku tidak berharap banyak. Sudah merasa ini yang terjadi.
Aku pulang dengan galau. Pelan-pelan rasa bersalah merasuk. Aku merasa tidak menjaga kehamilan ini dengan baik. Memang sih penyebab keguguran tidak bisa dipastikan dengan jelas. Dan belum tentu juga karena kecapekan. Bisa juga karna hormon, kromosom, atau apalah, banyak. tapi mungkin kecapekanku bisa mendukung proses keguguran itu. Aku merasa bersalah.
Aku ingat waktu hamil Arvind. Di trimester pertama, aku nyaris ga bisa bangun dari kasur. Mabok yang berlangsung 24 jam memaksaku tiduran terus. Bolak balik kerokan. Rasanya selalu seperti orang masuk angin. Dibulan keempat, diare luar biasa berat sampai masuk rumahsakit. Bolak balik ke kamar mandi sampai ga bisa jalan. Empat bulan pertama itu rasanya sungguh menguras kesabaran. Tapi rupanya aku bisa melewati empat bulan itu dengan selamat. Sedangkan yang sekarang, rasanya sehat tapi berakhir di minggu ke enam. Rasanya seperti barusan mimpi. Ya sudahlah, let it go.

 
Leave a comment

Posted by on 3 November 2015 in Point of View

 

Sandal

Arvind itu  kalo pakai sandal suka beda model yang kiri dengan yang kanan. Kadang dia ga mau pakai sandal yang sama kiri dan kanannya.

Orang yang lihat akan bilang “Arvind salah tu pake sendalnya. Masak kiri sama kanan beda”.

Aku sendiri merasa ga ada yang salah dengan cara Arvind pakai sandal. Soalnya sandal kiri di kaki kiri, sandal kanan di kaki kanan. Apa ada yang mengharuskan kita pakai sandal kiri dan kanan sama model ? Kalo beda terus di bilang gila gitu ? Bukankah itu hanya kebiasaan kita aja? Joger aja bikin sandal kiri dan kanan beda ya orang mau aja beli.

Buat Arvind juga merasa ga ada yang salah dengan seleranya memadupadankan sandal kesukaannya. Seperti mamanya yang suka memadupadankan baju dan celananya Arvind yang kadang tidak dengan pasangannya. Mungkin Arvind juga berfikir begitu. Yang penting baju di badan, celana di kaki. Ga harus dengan setelannya. Sendal juga begitu. Yang penting sandal kiri di kaki kiri, sandal kanan di kaki kanan.

Walaupun kadang ngelihatnya lucu dan aneh, tapi aku akan membiarkan saja dia pakai sandal suka-suka dia. Aku ga mau membatasi imajinasi dan kreatifitasnya.

Kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan setiap hari kadang membuat kita merasa sesuatu hanya punya satu view. Coba saja kalau kita nemenin anak kita mewarnai. Secara otomatis, kita akan mengambil krayon hijau untuk mewarnai pohon. Krayon biru untuk mewarnai langit. Padahal langit ga selalu biru dan pohon ga selalu hijau. Langit kalo lagi mendung warnanya abu-abu, kalo lagi mau magrib warnanya oren kemerahan. Pohon juga banyak  yang warna-warni kayak pelangi. Jadi dengan memakai sandal beda model aku ingin dia juga tau ada banyak view untuk melihat sesuatu.

 
Leave a comment

Posted by on 3 November 2015 in Cerita Arvind

 

Tags:

Idola tivi

Anak balita di negara ini pasti kenal dengan yang namanya Masha and The Bear. Film kartun pendek itu diputar setiap hari 2 x sehari di Anteve. Dan setiap film ‘kakak Masha’ itu main, Arvind pasti langsung bengong di depan tivi. Cara gampang kalo mau bangunin Arvind adalah setel film itu. Denger lagunya aja dia pasti langsung melek. Tapi setelah itu remote tivi di ambilnya dan di buang jauh-jauh. Takut diganti chanel tivinya sama mamanya. Segala yang di lakukan Masha dan beruangnya selalu diikuti oleh Arvind. Kegiatan yang paling disukai adalah loncat-loncat di atas kasur,  teriakan “hura.. hura…” dan geramnya beruang Mischa “ruaarrggh”. Jadi kalo dia lagi excited, dia akan teriak “hura.. hura..” sambil loncat di atas kasur. Kalo lagi marah maka akan teriak “ruaaarrggh sambil tangannya nyubit.

Selain Masha and The Bear yang disukainya adalah Upin Ipin. Tapi ga sengefans seperti kakak Masha-nya itu. Arvind ga ikut-ikut dengan tingkahnya Upin Ipin. Tapi dia juga akan membuang remote tivi jauh-jauh dari jangkauan mamanya kalo sedang nonton kartun ini.

Sejak nonton Adit dan Sapo Jarwo yang cerita tentang kebakaran, Arvind punya hobi baru. Dia suka bermain pemadam kebakaran. Apapun yang dipegangnya jadi selang buat memadamkan api. Ada truk, pistol-pistolan, rel kereta, apa aja yang kliatan jadi selang dan di putar-putar sekuat tenaga sambil membayangkan kebakaran yang berhasil dipadamkan. Salah satu ‘selang’nya itu pernah mengenai tanganku. Sakit sih, la wong nabraknya pake tenaga. Aku tanpa sadar teriak kesakitan. Arvind yang mendengar teriakanku kaget dan mendekatiku. Tangannya membelai bahuku “kenapa mah?” tanyanya innocent.

“Tangan mama sakit. Kena mainan Apin” jawabku sambil memelas sakit.

“Oh kena mainan Apin ya. Maaf ya ma” kata Apin sambil tetap membelai bahuku. Aku yang tadinya mau melotot jadi senyum.

Lalu diambilnya tanganku “sini mah. Apin cium tangannya” katanya sambil mencium tanganku yang sakit. “cepet sembuh ya ma” katanya lagi.

Dia lalu berjalan mengambil remote tivi. ” Mama mau nonton ini?” katanya sambil menyalakan tivi.

“Iya” kataku.

“Nih ma. Mama nonton tivi ya. Tapi jangan nangis ya” katanya lagi. Aku hanya tersenyum sambil mengucap syukur dalam hati bahwa aku dikaruniai anak yang begitu perhatian ke mamanya.

 
Leave a comment

Posted by on 3 November 2015 in Cerita Arvind

 

Dulu

Wajahnya tidak segarang dulu,
Badannya juga tidak segagah dulu,
Hanya egonya yang Masih setinggi dulu,
Dan setiap aku pergi meninggalkannya,
Hatiku teriris,
Betapa jarak kami begitu jauh

 
Leave a comment

Posted by on 8 August 2015 in Puisi

 

Mainan Arvind

IMG_20140514_141551

Mainan Arvind di simpan dalam 3 container. Biar ga berantakan ke mana-mana, aku hanya mengizinkannya membuka satu container  tiap kali dia mau main. Kalo mau buka container lainnya, dia harus membereskan mainannya dulu, tutup, baru buka container yang lain. Biasanya dia ga mau, maunya buka semua. Tapi mamanya keukeuh,  ga terima nego. Buka satu aja, kalo mau buka yang lain, yang ini di beresin dulu. Begitu yang selalu ku katakan ke arvind. Alhamdulilah dia nurut, Satu container biru di buka, di tumpahkan isinya. Mobil-mobilan, kereta, bola, dan macam-macam lainnya berserakan di lantai. Arvind main dengan gembira.

Kemarin seperti biasa, dia minta mainan di kontainernya. Tidak seperti biasanya yang kontainernya di tunggingkan sehingga mainannya tumpah dari wadahnya .kali ini dikeluarkan satu persatu mainannya dan dikumpulkan, di taruh di belakangku,  setelah itu dia tutup lalu wadahnya di taruh di pojokan, tempat awalnya di simpan.  Arvind lalu mendatangiku dan minta di buka container lainnya.”ma main yang itu ma” katanya menunjuk container yang merah.

Aku bilang “mainannya di beresin dulu. Baru main yang lain”

Kata Arvind dengan mata lugunya “mainannya abis”  sambil menunjuk container  yang  tadi dikosongkannya.  “Udah di tutup”

Jadi itu maksudnya. Mainannya dikumpulkan jadinya ga berantakan.  Lalu di sembunyikan  di belakangku. Ga keliatan kapal pecahnya kan. Bisa dibilang diberesin. Lalu wadahnya di tutup sesuai perintah. Dan di taruh ke tempatnya semula. Sesuai perintah mamanya toh.

Aku tepok jidat. Anakku mencari celah dari kalimat perintah yang aku berikan. Tapi aku senang karena untuk mendapatkan keinginannya dia ga menggunakan  tangisan tapi menerjemahkan kalimat perintahku dengan kreatif.

Tapi tetep saja. Segitu masih belum bisa ngakalin mamanya. Jadi ku gendong  dia, sambil tersenyum aku kasih mainannya yang dia sembunyikan di belakangku dan bilang “ mainannya di beresin dulu. Di masukin ke dalam wadah. Nanti baru main yang lain”. No nego.

I love you anakku.

 
Leave a comment

Posted by on 14 May 2014 in Cerita Arvind

 

Tags: , ,

Main Air

IMG_20140514_142027

Awalnya aku hanya bersih-bersih teras. Karena ada tikus yang pipis dipojokan rak sandal. Maka aku harus bongkar semua barang di sudut teras itu, menggusurnya ke halaman dan mengguyur teras dengan dua ember air.

Melihat mamanya menyerok air dengan pel panjang, arvind kepengen bantu. Dia lalu meminta pel itu dan menyerok air yang ada di kakinya. Tongkat pel yang panjang dan berat membuat badan kecilnya kewalahan memegang pel itu. Tapi karena bisa main air maka dia berusaha sekuat tenaga untuk bisa menguasai pel  itu.

Ga lama kemudian helm mamanya jatuh kesenggol tongkat pel dalam upayanya menguasai tongkat pel itu. Kepalanya yang kecil celingukan mencari sumber suara gubrak barusan. Di lihatnya helm mamanya terkapar di tanah. Lalu dia bilang “ih helm mama jatuh”. Didekati helm itu, diperhatikan sebentar lalu berkutat lagi dengan tongkat pel.

Ga lama kemudian dia merasa capek. Diserahkan tongkat pel itu kembali. Lalu dia mainan air yang di ember. Aku ambilkan  toples kecil, gelas plastic kecil dan mangkuk plastic kecil. Lalu kami bermain tumpah-tumpahan. Air di isi penuh ke  toples lalu dituang ke gelas kecil. Ketika airnya tumpah, Arvind bilang “yaaah tumpah”.Wajahnya kelihatan kaget begitu. Aku jelaskan kalo dari toples ke gelas, air bakal tumpah kan gelasnya lebih kecil. Lalu dari gelas balik lagi ke toples. Dilihatnya airnya ga tumpah malah lowong. “Kosong ya vind ?” tanyaku.

“Airnya udah dikit” kata Arvind.

Hari itu Arvind belajar tentang volume air. Lalu dia bolak balik memindahkan air dari gelas ke mangkuk, dari mangkuk ke toples, dari toples balik lagi ke ember. Terus di puter begitu. Dan setiap airnya tumpah, dia akan teriak “yaaaahh tumpaahhh..”

 
Leave a comment

Posted by on 14 May 2014 in Cerita Arvind

 

Tags: , ,